Minggu, 28 Oktober 2012

Retorika (Public Speaking) dan Protokoler


RETORIKA (PUBLIC SPEAKING) DAN PROTOKOLER
Oleh : Ali Sadikin



Setiap gerakan besar di dunia dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan jago-jago tulisan.  Adolf Hitler.


Retorika

Retorika atau Public Speaking berasal dari bahasa Yunani –Rhetorica, yang berarti seni berbicara dengan orang lain, baik antarpersona (satu-kepada-satu) dan berkembang menjadi kegiatan komunikasi massa (satu-kepada-semua). Tujuan adalah mempengaruhi dan merayu publik dalam rangka membentuk dan membina opini publik atau pendapat umum. Retorika sebagai seni mengandung banyak unsur persuasif  (membujuk) yang tinggi seperti penggunaan suara, bahasa lisan yang indah, berirama dalam menyampaikan pesan ketika berpidato.

Merayu publik adalah hal yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan-tujuan kita terutama dalam hal membangun kesadaran dan kebenaran. Publik atau khalayak memiliki daya tangkal dan sekaligus daya serap. Retorika dipergunakan agar publik mengunakan daya serapnya dan tidak sebaliknya.

Sejak jaman Yunani-Romawi telah dikenal banyak ahli pidato ulung yang disebut dengan istilah Orator (ahli orasi). Dalam perkembangannya hal itu banyak ditiru olah tokoh-tokoh politik seperti Hitler, Lenin, Rossevelt, Soekarno, Nehru dan banyak lainnya. Mereka adalah merupakan orator-orator yang mampu memukau publik.

Pada awalnya retorika banyak dipergunakan oleh tokoh-tokoh politik dalam agitasi dan propaganda mereka mempengaruhi khalayak demi mencapi tujuan-tujuan politiknya. Para agitator dan propagandis politik melakukan persuasi politik terhadap khalayak untuk membentuk pendapat umum. Retorika model tersebut banyak dikecam sebagai retorika persuasif negatif yang banyak berisi kebohongan dan pemalsuan tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip kebenaran, kebajikan dan moralitas.

Meski sejak jaman Romawi Plato telah mengecam retorika persuasif negatif tersebut namun kenyataannya sampai sekarang masih banyak dipakai dalam kegiatan politik, karena daya pesonanya sangat luar biasa dalam memakau khalayak. Dengan menggunakan bahasa lisan yang indah, irama, mimik, intonasi suara dan gerak tubuh yang selaras membuat retorika atau pidato politik memiliki daya persuasi politik yang sangat tinggi. Hal ini sangat berbahaya jika dipergunakan sebagai medium propaganda yang negatif. Hitler dan Stalin, Lenin, Mao Tze Tung, Aidit, membuat jutaan orang mati hanya karena pidato-pidato politik mereka.   

Plato menyebutnya sebagai racun yang membunuh demokrasi dan memperkenalkan teori baru dealektical rhetoric yang menekankan pada jiwa manusia. Retorika adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan memotivasi jiwa manusia secara positif kea rah kebenaran dan kebajikan. Orator atau komunikator dalam ucapan-ucapannya harus senantiasa berpedoman dan terikat pada dasar-dasar kebenaran, tanggung jawab, kejujuran, keadilan dan tidak boleh berpidato dengan menyampaikan kebohongan, fitnah, adu domba dan sesuatu yang tidak benar. Para nabi, ulama, motivator  merupakan contoh-contoh yang nyata.

Aristoteles membagi retorika politik dalam tiga jenis, dalam karyanya Retorika yakni : (1) retorika diliberitif, (2) retorika forensic, (3) retortika demonstratif.  Retorika deliberitif dirancng untuk emepengaruhi khalayak , dalam kebijakan pemerintah. Pembicaraan difokuskan pada keuntungan dan kerugian jika sebuah kebijakan diputuskan atau dilaksanakan. Retorika Forensik adalah retorika yang berkaitan dengan pengadilan, fokus pembicaraan pada masa lalu yang berkaitan dengan keputusan pengadilan. Retorika Demonstratif mengembangkan wacana yang dapat memuji atau menghujat. Retorika politik pada umumnya menerapkan retorika ini untuk mempengaruhi khalayak.

Pidato

Pelaksanaan retorika adalah pidato. Dengan pidato kepada khalayak secara terbuka akan berkembang wacana publik dan berlangsung proses persuasif. Melalui pidato akan dapat terungkap adanya Konflik dan Konsensus. Pidato adalah negeoisasi dan dengan retorika politik akan tercipta masyarakat dengan negosiasi (konflik dan konsensus) yang terus berlangsung. (Dan Nimmo).

Ada empat jenis pidato politik berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam berpidato, yakni (1) impromptu, (2) memoriter, (3) manuskrip, (4) ekstempore. Impromptu adalah pidato yang diucapkan spontan tanpa persiapan sebelumnya. Jenis ini lebih mengungkapkan perasaan pembicara. Gagasan dan pendapatnya. Tampak segar dan hidup. Manuskrip adalah pidato yang dipersiapkan secara tertulis atau pidato dengan naskah.  Memoriter adalah pidato yang ditulis dan sekaligus dihafal  kata demi kata atau kalimatnya. Jenis yang paling baik dalam pidato adalah Ekstempore, pidato dengan persiapan berupa garis besar dan pokok-pokok penunjang pembahasan.


Protokoler

Protokoler adalah pengaturan tata cara, upacara, gelar kegiatan. Disusun secara sistematis termasuk jenis perlengkapan, penataan tempat, dekorasi dan hal-hal lain yang menunjang sukses tidaknya sebuah acara atau kegiatan. Tujuannya adalah agar tujuan kegiatan dapat tercapai secara jelas, proses kegiatan menarik, berjalan hikmat dan terhormat, berkesan, isi dan kulit kegiatan perpadu secara harmonis.

Landasan dasarnya bermacam-macam tergantung acara, acara kenegaraan biasanya berdasar Tap MPR, Kepres. Perda baik tingkat satu maupun dua, sistem religi, budaya nasional, budaya daerah dan sistem organisasi, perkumpulan atau club-club. Jenis istilah latihan protokoler; pembawa acara, mc, presenter dan moderator.

Syarat protokoler adalah seseorang yang dianggap memiliki kapasitas sehat jasmani dan rohani, memiliki ketrampilan retorika, berpengetahuan luas, memiliki kemampuan berkomunikasi, disiplin, dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Memiliki tim kerja, supel dan fleksibel, tegas, bertanggung jawab, jujur, bermental baja dan sebagainya.





Qui assendit sine labora des condit sine homore, siapapun yang bekerja tanpa persiapan akan jatuh dan kehilangan kehormatan.








Daftar Pustaka


Arifin, Anwar. 2008. Opini Publik. Jakarta : Penerbit Pustaka Indonesia
Khasali, Rhenald. 2008. Manajemen Public Relation. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti
Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Modul Kuliah Opini Publik Fisip Untag’45 Jakarta
Modul Kuliah Komunikasi Politik Fisip Untag’45 Jakarta
Modul kuliah Publik Relation Fisip untag’45 Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

masukkan alamat email anda